Archive | February, 2011

Atas Nama Hidup

27 Feb

Yang kubenci bukanlah yang kuhindari

Yang kucintai bukanlah yang kuhasratkan

Kutaati semua hasratku, tapi ia memperbudakku

Kalau saja aku puas dengan yang ada

Aku pasti  menjadi orang  yang merdeka

Dalam bentengan angkasa yang aku baca

Banyak ketakutan insan yang tak nyata

Lalu mengapa harus bersedih karena sesuatu yang tiada guna

Biarlah hari-hari melakukan apa yang dia mau

Tak ada gunanya bagiku dunia

Yang ujungnya hanyalah ketakutan semata

Kematian selalu membidikku setiap saat

Kuharus berlatih untuk berani menghadap

Karena aku hanyalah milik tanah

Menjadi santapan cacing dan belatung yang memakannya,,,,,!!!

Tersenyumlah,,,!

27 Feb

Tertawa yang wajar laksana “balsem” bagi kegalauan dan “salep” bagi kesedihan. Pengaruhnya sangat kuat sekali untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia. Tertawa merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung rasa suka cita, namun, yang demikian itu adalah tertawa yang tidak berlebihan karena tertawa yang berlebihan menyebabkan matinya hati.

Senyuman tak akan ada harganya bila tidak terbit dari hati yang tulus. Setiap bunga tersenyum, hutan tersenyum, sungai dan laut juga tersenyum,  dan manusia sesuai watak dasarnya adalah makhluk yang suka tersenyum. Itu bila dalam dirinya tidak bercokol penyakit tamak, jahat dan egoisme yang membuat rona wajah tampak selalu kusut dan cemberut.

Tidak ada yang membuat jiwa dan wajah menjadi demikian muram selain keputusasaan, maka jika kita menginginkan senyuman, tersenyumlah terlebih dahulu dan perangilah keputusasaan. Setiap kali melihat kesulitan, jiwa seseorang yang murah senyum justru akan menikmati kesulitan ini dengan memacu diri untuk mengalahkannya. Berbeda dengan jiwa manusia yang selalu risau, setiap kali menjumpai kesulitan, ia ingin segera meninggalkannya.

Orang berkata, langit selalu berduka dan mendung
Tersenyumlah,,,! cukuplah duka cita dilangit sana
Orang berkata, masa muda telah berlalu dariku
Tersenyumlah,,,! bersedih menyesali masa muda tak kan pernah mengembalikannya
Orang berkata, langitku yang ada di dalam jiwa telah membuatku merana dan berduka, janji-janji telah menghianatiku ketika kalbu telah menguasainya, bagaimana mungkin jiwaku sanggup mengembangkan senyum manisku
Tersenyum dan berdendanglah,,,! jika kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk merasakan sakitnya
Orang berkata, perdagangan selalu penuh intrik dan penipuan, ia laksana musafir yang akan mati karena terserang rasa haus
Tersenyumlah,,,! karena engkau akan mendapatkan penangkal dahagamu
Apa kau kira merugi karena menampakan wajah berseri,,,???
Sahabatku,,,,!!! tak membahayakan bibirmu jika engkau mengukir senyumu di sudut bibirmu
Juga tak membahayakan jiwa jika wajahmu tampak indah berseri
Tersenyumlah,,,,!!! selama antara kau dan kematian ada jarak sejengkal,,,, setelah itu engkau tidak akan pernah tersenyum,,,,!!!

Award Persahabatan

25 Feb

Terkejut sekali setelah saya tahu bahwa saya mendapat award dari salah seorang sahabat saya,  sebenernya saya kurang faham tentang award, jujur saja saya masih baru di dunia ini, dunia yang masih awam bagi saya,,,,,, saya mendapatkan award ini dari sahabat blogger saya yang bernama Kamal award yang kuterima rupanya melambangkan tentang persahabatan antar bloger, terima kasih Bang Kamal,,,,, atas penghargaan yang telah anda berikan kepada saya, award ini membuat saya semakin termotivasi untuk terus belajar tentang menulis dengan lebih baik lagi dan tentunya bermanfaat dan dengan award ini semoga dapat mempeerat tali silaturahmi persahabatan kita, persahabatan antar bloger akan terus terjalin dengan baik, aakh,,,,!! aku bingung harus ngomong apa lagi ya,,,,, saking terharunya,,,,he he he,,,,

Inilah Award persahabatan yang kuetrima

hemmm…..sahabat bloger tahu nggak,,, saya mengenal dunia ini atas dorongan dan rangsangan dari sahabat saya, awal sama sekali saya tidak pernah berniat untuk terjun ke dunia blog tetapi kehadiran sahabat yang selalu mendukung, mendorong dan memberi semangat terhadap saya sehingga akhirnya saya mengenal dan mulai mencintai dunia ini,,,,, setelah kupikirkan dengan mendalam award ini akan saya persembahkan kepada sahabat saya, sahabat sejati yang telah setia memperhatikan, mendukung dan membimbing saya dalam mengubah kehidupan menjadi lebih baik,,,, Mas Astra Satria (Mahali Saputra), terimalah award ini Mas Ali,,,,! sebagai penghargaan dan ungkapan terima kasih saya atas jasa dan perhatianmu yang begitu berarti bagi saya, kehadiranmu membuat hidup saya lebih bermakna, semoga persahabatan kita tak kan pernah luntur,,,,,,!!!

Monyet,,,,

21 Feb

Maafkan saya karena saya tidak bijak mengarang, saya bukan penulis hebat, apa yang ingin saya ceritakan pun hanyalah tentang monyet, hewan yang sering jadi bahan sendaan kita, bukannya tentang uang, saham, barang perhiasan, kekasih yang tampan mau pun villa besar.

Saya teringat cerita masa lalu 17 tahun kebelakang, waktu itu saat liburan sekolah saya mengadakan kemping bersama teman-teman ke sebuah hutan, beberapa jam setelah saya berada di situ saya bejalan-jalan bersama teman saya melihat pemandangan di sekitar itu, selang dua tiga puluh langkah, kami mendengar suara riuh rendah dibalik pohon-pohon besar dihadapan kami. Saya mengamati suara itu, ternyata itu datang dari sekawanan monyet yang sedang memakan buah-buahan hutan, tak jauh dari situ terlihat pula seseorang yang sedang memperhatikan hewan itu, ternyata dia adalah seorang pemburu , kuperhatikan di sudut bibirnya ada sebaris senyuman, senyuman yang saya faham benar maksudnya.

“Adakah bapak hendak menembak monyet-monyet itu,,,,?” tanyaku, “saya akan tembak ibunya, kemudian akan saya ambil anaknya dan akan saya pelihara” begitu jawab si pemburu. Masih saya ingat juga, saya beberapa kali mendesak si pemburu tersebut supaya membatalkan hasratnya itu, tetapi gagal. Saya gagal mengendurkan niatnya.

Tidak akan saya lupa kata-kata Si pemburu itu “dari pada balik tangan kosong?” lalu dia mengacukan senapannya ke arah kawasan monyet, dan,,,,DOORRRR,,,,!!!! bunyi dentuman senapan, buyar dan kalang kabut monyet-monyet tadi menyelamatkan diri, hutan itu riuh dengan bunyi ranting patah serta jerit pekik hewan berkenaan. BUPPP,,,,!!! terdengar suara benda yang jatuh ke tanah. Saya melihat seekor ibu monyet jatuh dihadapan kami, dari perutnya bercucuran darah pekat, anaknya yang tidak mengerti apa-apa terlepas dari pelukan, tercampak tidak jauh dari ibunya sambil menjerit-jerit. Si ibu merengus-rengus memanggil anaknya dengan lemah, ia mencoba bangun dengan susah payah sambil tangannya mencapai akar-akar pohon untuk mendekati anaknya, sebelah tangan lagi mendekap perut yang masih berdarah.

Ia berusaha melangkah tapi terjatuh lagi, di coba lagi sambil berguling-guling kearah anaknya, si anak yang baru bisa berjalan jatuh bangun mendapatkan ibunya, si anak itu langsung saja memeluk ibunya yang kesakitan. Masih terbayang jelas diingatan saya bagaimana si ibu monyet tadi memegang tubuh dan menatap wajah anaknya puas-puas, kemudian diciuminya berkali-kali, setelah itu dibawa sianak ke dada lalu disuakan susunya. Kami dan si pemburu terdiam melihat si anak mengisap susu manakala ibunya mengerang-ngerang perlahan seakan memujuk menahan sakit.

Hati saya tersentuh, betapa si anak yang baru melihat dunia tidak tahu bahwa ibu tempat dia bermanja akan pergi buat selama-lamanya, saya tidak mampu menyelami fikiran ibu monyet tadi, mungkin ia ingin memeluk anaknya buat terakhir kalinya, sepuas-puasnya, karena selepas ini si ibu akan pergi tak kan kembali.

“Ibu tidak akan dapat memelukmu lagi apabila kau kedinginan, tidak bisa menyuapi mulutmu bila kau merengek kelaparan, juga melindungimu bila kau kepanasan” seperti itu mungkin yang ibu monyet katakan andaikan dia bisa bicara.

Mata si ibu monyet memandang ke arah kami, tangannya memeluk erat si anak seolah-olah enggan melepaskannya, biarlah ia mati bersama anaknya, matanya terlihat digenangi air, masih tidak lepas memandang kami dengan pandangan sayu, mungkin ingin menyatakan “betapa kejamnya manusia, dosa apakah yang aku lakukan hingga aku ditembak,,,? salahkah aku bebas kesana, berkeliaran di bumi indah ciptaan Allah ini ?”

Tubuh ibu monyet itu berlumuran darah, begitu juga dengan si anak yang masih dipelukannya, beberapa detik kemudian dengan tenaga yang masih tersisa, kami lihat si ibu mencium anaknya untuk kesekian kalinya, perlahan-lahan tubuhnya terkulai ke tanah, bisa penabur dari moncong senapan si pemburu tadi tidak dapat ditanggung lagi. Si anak menjerit-jerit memanggil ibunya supaya bangun dan melarikan diri dari situ, tapi si ibu sudah tidak bernyawa lagi. Puas menjerit, sianak tadi menyusu lagi. Disaat itu perasaan saya teramat sesak, saya perhatikan si pemburu, dia beberapa kali mengatupkan bibir coba menahan air matanya yang tumpah ke pipi. Melihat si anak monyet tadi menjerit dan menggoncang-goncangkan tubuh ibunya, akhirnya air mata kami pun tumpah, teramat sedih yang saya rasakan saat itu.

Suasana kembali sunyi, si anak monyet tadi di rangkul dan dibawa pulang oleh si pemburu biarpun ia menjerit-jerit dan enggan berpisah dengan ibunya yang telah mati. Ketika itu saya dapat merasakan betapa kejamnya manusia telah membunuh satu nyawa yang tidak berdosa, biarpun monyet itu hanya hewan, tapi mereka juga mempunyai perasaan, ada rasa kasih kepada anaknya, ada rasa sayang kepada ibunya. Tapi kita manusia,,,,???? dimana hilangnya akal waras kita,,,,?

Selang dua minggu kemudian, saya mendengar kabar dari si pemburu itu, anak monyet tadi mengikuti jejak ibunya, anak monyet itu tidak mau makan dan terus menjerit-jerit saja, mungkin ia rindukan ibunya, apabila malam keadaanya bertambah parah, dan akhirnya mati,,,,,!

Kini saya sudah berumah tangga, peristiwa itu saya ceritakan kepada anak-anak saya supaya mereka mengerti bahwa hewan juga punya perasaan, yang kejam adalah manusia, walaupun kita satu-satunya makhluk Allah yang di anugerahkan akal fikiran, tidak lupa saya memeberitahu mereka betapa agung dan sucinya kasih sayang seorang IBU.

 

Profesionalisme Ala Tukang Sayur

19 Feb

Suatu hari saya pergi jalan-jalan menikmati pagi bersama keluarga ke pasar tradisional, di pasar itu saya membeli tempe. Waktu itu harga tempe Rp. 1.500,- perbungkus dan saya membeli tiga bungkus seharga Rp. 4.500,-. Lalu saya mengeluarkan uang Rp. 5.000,- dari saku saya tetapi tukang tempe tidak mempunyai uang receh untuk kembalian, dan saya pun berkata “kembaliannya ambil saja mang….”

Saya pun kembali berjalan bersama keluarga. Belum beberapa langkah dari tempat si tukang tempe, si penjual tempe  mengejar dan memberikan sepotong tempe lagi, sambil berkata “ibu, ini ambil sepertiganya lagi, saya hanya punya hak Rp. 4.500,-…..”

Menarik bukan ? Tukang sayur yang hidupnya sederhana tapi menjunjung profesionalisme. Kenyataan sekarang, dilingkungan kita, banyak aparat di pemerintahan ataupun diluar pemerintahan yang tidak melakukan apa-apa saja ketika diberi amplop, malah senangnya minta ampun, tidak peduli uang itu didapat dari mana, malah kadang sengaja minta.

ironis, tapi,, itu kenyataan……

  • Bagaimana kita bisa mengklaim kita profesional kalau kita sendiri tidak profesional.

Keutamaan Buku

17 Feb

Buku adalah teman duduk yang tidak akan memujimu dengan berlebihan, sahabat yang tidak akan menipumu dan teman yang tidak membuatmu bosan. Dia adalah teman yang sangat toleran yang tidak akan mengusirmu, dia adalah tetangga yang tidak akan menyakitimu, dia adalah teman yang tidak akan memaksamu mengeluarkan apa yang kita miliki, dia tidak akan memperlakukanmu dengan tipu daya, tidak akan menipumu dengan kemunafikan dan tidak akan membuatmu kebohongan.

Buku adalah sesuatu yang jika kita pandang akan memberikan kenikmatan yang panjang, dia akan menajamkan kemampuan intelektual, membuat lidah tidak kelu dan membuat ujung jari semakin indah, dia akan memperkaya ungkapan-ungkapan kita, akan menenangkan jiwa dan akan mengisi dada, dengannya kita akan mengetahui sesuatu hanya dalam singkat waktu, satu hal yang tak bisa kita dapatkan dari mulut orang selama satu masa.

Buku adalah sesuatu yang akan senantiasa taat baik disiang hari maupun dimalam hari, dia akan ikut saja diamanapun kita berada, dia tidak pernah mengantuk dan tidak akan terkena kelelahan malam. Dia adalah guru yang jika kita membutuhkannya, maka ia tidak akan merasa malu, walaupun kita meninggalkannya dia akan selalu taat, walaupun angin meyerang, dia tidak akan berpaling.

Buku dapat menambah keimanan, khususnya buku karangan kaum muslimin, dia pemberi nasihat yang paling agung, pendorong jiwa yang paling besar dan penyeru kebaikan yang paling bijaksana. Buku dapat membantu pikiran agar lebih tenang, membuat hati agar lebih terarah dan memanfaatkan waktu agar tidak terbuang percuma.

  • Kehidupan jiwa adalah konsep dan makna, bukan yang engkau makan dan minum
  • Ilmu itu teman akrab dalam kesepian, sahabat dalam keterasingan, pengawas dalam kesendirian, penunjuk jalan kearah yang benar, penolong disaat sulit dan simpanan setelah kematian.
  • Yang lebih indah dari istana dan rumah mewah adalah buku, yang bisa menjernihkan pemahaman, yang membuat hati menjadi gembira, yang membuat jiwa menjadi teduh, yang membuat hati menjadi lapang dan yang membuat pikiran berkembang.

<p

Bunga dan Wanita

15 Feb

Wanita sering diibaratkan sebagai bunga. Bunga lahirnya melambangkan sesuatu yang cantik, indah dan berseri, begitulah wanita…. Hadirnya Hawa mengisi kesunyian Adam, adanya wanita menjadi penyambung dzuriat di maya pada. Wanita sholehah ibarat bunga yang berkembang mekar, harum dan bersinar, menjadi idaman sebagai penyeri suasana. Wanita Tholehah (buruk akhlak) ibarat bunga yang layu, kering dan tidak berseri, tiada siapapun yang sudi, kalaupun cantik, ia hanya ibarat bunga plastik yang tidak harum, kaku dan mudah berdebu.

Wanita dimasyhurkan tapi tidak ditonjolkan, ia tersembunyi biarpun hadirnya menggegarkan, umpama mutiara yang ditampakan buat perhatian umum dengan permata yang tersembunyi, pasti yang tersembunyi itu melebihi yang tertampak,,,, permata dicelahan kaca, permata dibalik timbunan pasir halus,,,, ibarat sekuntum mawar berduri di taman larangan.

Ya Robb,,,,!

Izinkan hambaMu yang kerdil lagi hina… menjadi salah satu kuntuman mawar aspirasi di Taman SyurgaMu… walau kusadar, aku hambaMu yang paling tidak layak menjadi salah satu kuntuman mawar tersebut.

Seiring dengan nikmat usia yang masih diberikan peluang dariMu, sisa-sisa nafas yang diizinkan kuhirup…. izinkan aku menjadi tapak semaian pertama benih-benih generasi yang bakal mewarnai dunia dengan sinar cahayaMu…

Senyumanku adalah rahasia yang tersingkap… tangisanku adalah rasa hati yang tercurah… dan kegelisahanku adalah pemberontakan kasih sayang…. izinkan aku ingin menjadi mawar yang berduri, dari kejauhan sudah tercium harumnya serta kilauan warna yang memancar indah mengundang keagungan ciptaanMu….

Aku ingin menjadi hamba yang wajahnya dihiasi tetesan wudhu, bibir dengan tilawatil qur’an dan zikrullah, aku ingin menjadi sekuntum mawar aspirasi sebagai Srikandi yang mekar dan terus mewangi di tamanMu, meniti di jalanMu… mekar disudut ruangMu…

TanpaMu,,,tanpa cahayaMu,,,tiada arti kehidupan ini,,,, padamkanlah kisah silamku…. seiring usia yang semakin meningkat, kubersujud syukur padaMu, moga ruang hidup yang masih diberikan ini, aku menghargainya mengabdikan diriku hanya untuk Sang Penciptaku….!