Monyet,,,,

21 Feb

Maafkan saya karena saya tidak bijak mengarang, saya bukan penulis hebat, apa yang ingin saya ceritakan pun hanyalah tentang monyet, hewan yang sering jadi bahan sendaan kita, bukannya tentang uang, saham, barang perhiasan, kekasih yang tampan mau pun villa besar.

Saya teringat cerita masa lalu 17 tahun kebelakang, waktu itu saat liburan sekolah saya mengadakan kemping bersama teman-teman ke sebuah hutan, beberapa jam setelah saya berada di situ saya bejalan-jalan bersama teman saya melihat pemandangan di sekitar itu, selang dua tiga puluh langkah, kami mendengar suara riuh rendah dibalik pohon-pohon besar dihadapan kami. Saya mengamati suara itu, ternyata itu datang dari sekawanan monyet yang sedang memakan buah-buahan hutan, tak jauh dari situ terlihat pula seseorang yang sedang memperhatikan hewan itu, ternyata dia adalah seorang pemburu , kuperhatikan di sudut bibirnya ada sebaris senyuman, senyuman yang saya faham benar maksudnya.

“Adakah bapak hendak menembak monyet-monyet itu,,,,?” tanyaku, “saya akan tembak ibunya, kemudian akan saya ambil anaknya dan akan saya pelihara” begitu jawab si pemburu. Masih saya ingat juga, saya beberapa kali mendesak si pemburu tersebut supaya membatalkan hasratnya itu, tetapi gagal. Saya gagal mengendurkan niatnya.

Tidak akan saya lupa kata-kata Si pemburu itu “dari pada balik tangan kosong?” lalu dia mengacukan senapannya ke arah kawasan monyet, dan,,,,DOORRRR,,,,!!!! bunyi dentuman senapan, buyar dan kalang kabut monyet-monyet tadi menyelamatkan diri, hutan itu riuh dengan bunyi ranting patah serta jerit pekik hewan berkenaan. BUPPP,,,,!!! terdengar suara benda yang jatuh ke tanah. Saya melihat seekor ibu monyet jatuh dihadapan kami, dari perutnya bercucuran darah pekat, anaknya yang tidak mengerti apa-apa terlepas dari pelukan, tercampak tidak jauh dari ibunya sambil menjerit-jerit. Si ibu merengus-rengus memanggil anaknya dengan lemah, ia mencoba bangun dengan susah payah sambil tangannya mencapai akar-akar pohon untuk mendekati anaknya, sebelah tangan lagi mendekap perut yang masih berdarah.

Ia berusaha melangkah tapi terjatuh lagi, di coba lagi sambil berguling-guling kearah anaknya, si anak yang baru bisa berjalan jatuh bangun mendapatkan ibunya, si anak itu langsung saja memeluk ibunya yang kesakitan. Masih terbayang jelas diingatan saya bagaimana si ibu monyet tadi memegang tubuh dan menatap wajah anaknya puas-puas, kemudian diciuminya berkali-kali, setelah itu dibawa sianak ke dada lalu disuakan susunya. Kami dan si pemburu terdiam melihat si anak mengisap susu manakala ibunya mengerang-ngerang perlahan seakan memujuk menahan sakit.

Hati saya tersentuh, betapa si anak yang baru melihat dunia tidak tahu bahwa ibu tempat dia bermanja akan pergi buat selama-lamanya, saya tidak mampu menyelami fikiran ibu monyet tadi, mungkin ia ingin memeluk anaknya buat terakhir kalinya, sepuas-puasnya, karena selepas ini si ibu akan pergi tak kan kembali.

“Ibu tidak akan dapat memelukmu lagi apabila kau kedinginan, tidak bisa menyuapi mulutmu bila kau merengek kelaparan, juga melindungimu bila kau kepanasan” seperti itu mungkin yang ibu monyet katakan andaikan dia bisa bicara.

Mata si ibu monyet memandang ke arah kami, tangannya memeluk erat si anak seolah-olah enggan melepaskannya, biarlah ia mati bersama anaknya, matanya terlihat digenangi air, masih tidak lepas memandang kami dengan pandangan sayu, mungkin ingin menyatakan “betapa kejamnya manusia, dosa apakah yang aku lakukan hingga aku ditembak,,,? salahkah aku bebas kesana, berkeliaran di bumi indah ciptaan Allah ini ?”

Tubuh ibu monyet itu berlumuran darah, begitu juga dengan si anak yang masih dipelukannya, beberapa detik kemudian dengan tenaga yang masih tersisa, kami lihat si ibu mencium anaknya untuk kesekian kalinya, perlahan-lahan tubuhnya terkulai ke tanah, bisa penabur dari moncong senapan si pemburu tadi tidak dapat ditanggung lagi. Si anak menjerit-jerit memanggil ibunya supaya bangun dan melarikan diri dari situ, tapi si ibu sudah tidak bernyawa lagi. Puas menjerit, sianak tadi menyusu lagi. Disaat itu perasaan saya teramat sesak, saya perhatikan si pemburu, dia beberapa kali mengatupkan bibir coba menahan air matanya yang tumpah ke pipi. Melihat si anak monyet tadi menjerit dan menggoncang-goncangkan tubuh ibunya, akhirnya air mata kami pun tumpah, teramat sedih yang saya rasakan saat itu.

Suasana kembali sunyi, si anak monyet tadi di rangkul dan dibawa pulang oleh si pemburu biarpun ia menjerit-jerit dan enggan berpisah dengan ibunya yang telah mati. Ketika itu saya dapat merasakan betapa kejamnya manusia telah membunuh satu nyawa yang tidak berdosa, biarpun monyet itu hanya hewan, tapi mereka juga mempunyai perasaan, ada rasa kasih kepada anaknya, ada rasa sayang kepada ibunya. Tapi kita manusia,,,,???? dimana hilangnya akal waras kita,,,,?

Selang dua minggu kemudian, saya mendengar kabar dari si pemburu itu, anak monyet tadi mengikuti jejak ibunya, anak monyet itu tidak mau makan dan terus menjerit-jerit saja, mungkin ia rindukan ibunya, apabila malam keadaanya bertambah parah, dan akhirnya mati,,,,,!

Kini saya sudah berumah tangga, peristiwa itu saya ceritakan kepada anak-anak saya supaya mereka mengerti bahwa hewan juga punya perasaan, yang kejam adalah manusia, walaupun kita satu-satunya makhluk Allah yang di anugerahkan akal fikiran, tidak lupa saya memeberitahu mereka betapa agung dan sucinya kasih sayang seorang IBU.

 

36 Responses to “Monyet,,,,”

    • Srikandi Hati February 22, 2011 at 5:35 pm #

      Ya Bung Syahril, meskipun monyet tapi perasaannya sama seperti manusia, mempunyai rasa cinta, kasih dan sayang,,,!

  1. jajangnujubeengoonk milih nu mana February 21, 2011 at 11:04 pm #

    macana,,,tunduh

  2. HALAMAN PUTIH February 22, 2011 at 1:47 pm #

    Kadang manusia bisa bertindak melebihi binatang karena sudah tak lagi punya rasa kemanusiaan.

    Postingan yang bagus dan mengharukan mbak…

  3. Astra satria February 22, 2011 at 2:43 pm #

    Sungguh…. jujur saya katakan, mata saya sampai berkaca-kaca membacanya, baru kali ini saya membaca postingan seseorang sampai menyentuh hati saya, cerita hebat dan dibawakan oleh orang yang hebat juga !

    • Srikandi Hati February 22, 2011 at 5:44 pm #

      Terima kasih Mas Astra, dirimu juga hebat bisa membimbing saya sampai hebat he he he,,,, btw aku aja yang nulis sambil berkaca-kaca, sedih seolah-olah aku sendiri yang mengalaminya,,,,hiks hiks,,,,

  4. kamal February 22, 2011 at 4:13 pm #

    hewan aja berprike hewanan, masa manusia ga berprikemanusian..tul ga? aku suka jalan ceritanya..hehe kaya didongengin…btw aniwei aku punya sesuatu tuh di blog aku…mohon di ambil ya,, kalo sempet.. takut kelamaan nanti jadi bubur loh… :)SEMANGAT!

    • Srikandi Hati February 22, 2011 at 5:47 pm #

      Iya padahal manusia sudah mengenal Pancasila ya,,,,??? Btw ada apa ya di blogmu, oke deh nanti aku jengukin kesana….

  5. hanyanulis February 23, 2011 at 7:22 am #

    tapi yang saya tau dari monyet, mereka itu makluk monogami, kalo salah satu pasangan atau sang betina mati, maka tsang pejantan lama kelamaan pasti akan mati juga..wah enak kali ya kalo semua orang punya kesetiaan dan loyalitas terhadap pasangan kayak si nyemot ini

    • arsyadvilla February 24, 2011 at 8:11 pm #

      halo. jadi ingin ikut sharing nih. kelompok monyet tidak ada yang monogami. mereka ini makhluk sosial yang hidup dalam kelompok. kelompok bisa mencapai anggota 20 ekor. secara seksual, semua betina dikuasai oleh ketua kelompok (jantan). Kalo bangsanya burung iya, kebanyakan \monogami. Seperti bangsanya elang, merpati, dll. Maaf ya.

    • Srikandi Hati February 25, 2011 at 1:21 pm #

      apa salahnya jika kita meniru gaya kesetiaan dan loyalitas yang dilakukan si nyemot itu he he he

  6. shaleh February 23, 2011 at 11:08 am #

    tulisan yang mengharukan, sampai2 ga sadar nie ada airmata saat bacanya.
    TabiK

    • Srikandi Hati February 25, 2011 at 1:22 pm #

      ternyata bukan hanya kaum Hawa saja ya yang mempunyai perasaan lembut itu,,,,🙂

  7. yuni80 February 23, 2011 at 11:53 am #

    Kasih sayang seorang Ibu tak mungkin tergantikan… Sedih juga bacanya😦 Padahal Manusia tuch makluk yang punya perasaan tapi kenapa koq tega sampai membunuh hewan… aneh.com… Padahal hewan juga butuh hidup😀

    • Srikandi Hati February 25, 2011 at 1:24 pm #

      hewan juga punya hati ya Mba Yun,,,, semoga kita tidak meniru apa yang telah dilakukan si pemburu itu.

    • tarjo80 February 27, 2011 at 12:39 am #

      aku yo butuh urip kok bu,,sandal,cawet ku gondol maling iki piye,,po menungso tenen kere,,po kurang duwit,,,sandal elek,cawet suwex yo di cia,,,asem,asem,,,,,,ene wae ta!!

      • Srikandi Hati February 27, 2011 at 8:04 am #

        aku ora ngerti bahasane Mas Tarjoyo,,,,bahasa opo iki hi hi hi,,,,,cari artinya di google kok gak ketemu-ketemu ya, piye toh mas mas he he he

  8. ardi February 23, 2011 at 2:03 pm #

    kalau cuma cerita sih no problem parahnya ini terjadi didunia nyata

    • Srikandi Hati February 25, 2011 at 1:25 pm #

      iya Pa Ardi,,,terima kasih kunjungannya,,,😉

  9. Anak tapsel February 23, 2011 at 5:58 pm #

    Cek cek duo tigo oke. .
    Hai met malam

    • Srikandi Hati February 25, 2011 at 1:25 pm #

      Hai juga, Met Siang kali ya sekarang mah,,,,,

  10. Fikriyansyah February 23, 2011 at 11:52 pm #

    hikz…hikz… sdih saya..

    • Srikandi Hati February 25, 2011 at 1:26 pm #

      wah Mas Fikri tersentuh juga ternyata,,,😀

  11. lozz akbar February 24, 2011 at 1:45 pm #

    Jangan sampai satwa hanya menjadi sebuah sketsa… jujur saya mangkel ma pemburu itu.. saya pikir dia orang yang enggak waras.. maaf esmosi nih hehehe

    • Srikandi Hati February 25, 2011 at 1:27 pm #

      jangan kelamaan lho mas remosinya he he he

  12. ageng February 24, 2011 at 4:25 pm #

    saya jadi terenyuh bacanya.
    kalo dipikir2 manusia memang terlalu memanfaatkan kelebihanya, tanpa didasari perasaan
    tulisanya bagus kok, bisa menciptakan suasana yang kuat. jarang lho ada tulisan kaya gini, bahkan dibuku sekalipun

  13. arsyadvilla February 24, 2011 at 8:15 pm #

    salam kenal dari bekasi. sekedar nambahin, anak monyet biasanya diasuh oleh betina lain kalo induknya mati. kalo kita buat seekor anak monyet menjerit/menangis, maka anggota jantan dewasa (bisa 5 – lebih) akan menyerang kita. protektif banget ya?

    Cerita induk memberi susu sebelum mati sudah lama saya dengar. Ini sangat inspiratif. Salam

    • Srikandi Hati February 25, 2011 at 1:29 pm #

      Salam kenal juga dari Subang,,,,terima kasih kunjungannya.

  14. Bang ngangan.com February 24, 2011 at 11:49 pm #

    saya seakan mendapatkan nasehat dari seorang Ibu.
    Kadang rasanya kita memang harus belajar banyak dari semesta, tak hanya kawanan hewan.

    Manusia memang aneh, kadang bisa dibilang sangat baik, tapi diwaktu dan tempat lain,atau mungkin juga kita sendiri sering lebih jahat dari binatang.

    terimakasih Bu’ atas nasehatnya..

    • Srikandi Hati February 25, 2011 at 1:31 pm #

      sama-sama, sekaligus ini juga menasehati diri saya sendiri agar kita lebih sayang terhadap kedua orang tua kita,,,,!

  15. Cahya February 25, 2011 at 8:11 pm #

    Kalau yang nyata terlihat kadang kita tersentuh, namun jika yang tak kasat mata, mungkin sepenuhnya populasi manusia hidup dari “membunuh” hewan lainnya. Kadang saya berpikir, mau dibuat dalam puisi seindah apapun, kita hidup dari kematian mahluk lainnya.

  16. tarjo80 February 27, 2011 at 12:42 am #

    monyet,dengan manusia…apa masih ada perbedaan nya..??
    kenapa sifat manusia jadi monyet di jaman ini..??kenapa monyet bisa akur,,damai,,,walau pun susah makan,,,!!!monyet monyet,,urip mu kok adem,ayem,tentrem…siapa yang mau jadi monyed..(NGACUNG)?

  17. rahmanwahyu February 27, 2011 at 9:13 pm #

    Ceritanya sangat menyentuh. Saya pernah punya seekor kera. Kera apa monyet ya? Merasa telah mengekang kebebasannya, saya akhirnya melepaskan dia dengan sendu ke alam bebas. Rasanya dia akan lebih baik di sana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: