Archive | Ramadhan RSS feed for this section

Datang & Pergi,,,,,,

5 Feb

Tahun demi tahun berlalu, namun ia setia hadir, mulianya bulan yang terbit itu bukan seenak bicara seindah kata-kata, tetapi ia kemanisan yang tiada ganti, pada yang mengerti hadirnya dinanti-nanti, perginya begitu ditangisi, terbit begitu dihargai, setiap pancaran sinarnya disambut dengan alunan suci kalam Robbi, dibiar diri menari bermuhajadah menghadapi getir si nafsu durjana demi menggapai seribu janji nan luhur dari Illahi, segalanya itu bagi yang meyakini bahwa ni’mat hidupnya tatkala melepas hembus nafas pengharapan pada sebuah pengampunan demi sebuah kehidupan yang penuh dengan kepastian.

di penghujung dunia itu, terdapat juga sekelompok manusia yang tidak pernah dan tidak mau hirau akan sinar itu, sinar yang hadir cuma sekali dalam setahun, entah  kenapa kelihatan tidak bermakna kehadirannya, kelihatan tak pernah dinanti kemunculannya, berlalu pergi sinaran itu begitu saja menyimpan seribu sendu kesedihan melihat kehadirannya tak dihiraukan.

Tiba-tiba disuatu sudut itu, kelihatan begitu gairah manusia menunggu kehadiran sinar nan suci itu, dengan segala kelengkapan yang serba barum sayang kelengkapan itu sebenarnya bukan untuk menyambut sinaran murni kurniaan Robbi, tetapi ia cuma ayunan langkah mencuri kesempatan, untuk mengumpul rupiah dengan jualan,  hati bagai ditusuk sembilu, betapa kehadirannya bukan suatu kepastian karena Tuhan tidak pernahmenjanjikan sebuah kehidupan tanpa pengakhiran, tetapi ada pula manusia yang begitu sombong, hadirnya tidak dipedulikan tetapi perginya di sambut gembira.

Sayup-sayup kedengaran suara halus menjelajah ayat demi ayat dari lembaran Qur’ani, kelihatan sekujur tubuh tenggelam dalam ritme keasyikan mengharap keridlaan, disisinya cuma berbekal pepasir sebagai alas dan dedaun sebagai bumbung, kelihatannya anyir darah merah menusuk hidung tetapi wajah itu begitu jernih dalam girang. Dentuman bom umpama irama sampingan, sendunya berakhir dengan sebuah pengaharapan agar ramadhan kan datang lagi, belum puas beramah mesra, belum puas membiar sinar itu menjamah halus setiap inci persembahannya, khawatir bisiknya, persembahannya kali ini mungkin sumbang dengan irama riya’, ujub dan takabur. Sinar itu terlalu berharga dengan harapan untuk bertemu kembali dilabuhkan dalam linangan air mata, dalam sahutan takbir dan tahmid.

Begitu hadirnya mentari ramadlan itu disambut dengan cara tersendiri, dengan santun dan irama, persoalannya apakah arti Ramadlan itu benar-benar dihayati,,,??? moga dihadiahi Ramadlan itu dengan seribu kekuatan untuk menghargainya jua,,,,,,,