Archive | Uncategorized RSS feed for this section

Serambi Mekah

1 Mar

Ku deudeuh Serambi Mekah, Ngaran endah taya peurah

Kagadabah nu sarakah, Antukna Anjeun katulah

Tsunami mangrupa bukti, Rewuan nemahan pati

Jiga anu taya harti, Banjir bandang hiji ciri

Tawis panggeuing ti Gusti, Pikeun ngabebenah diri

Usik dina tetekon Hyang Widi,,,,,,

Daun syetan angger ngemrat, Mancawura natar jagat

Jutaan jalma sakarat, Kacanduan barang laknat

Duh…… Serambi Ganja !!

Tersenyumlah,,,!

27 Feb

Tertawa yang wajar laksana “balsem” bagi kegalauan dan “salep” bagi kesedihan. Pengaruhnya sangat kuat sekali untuk membuat jiwa bergembira dan hati berbahagia. Tertawa merupakan puncak kegembiraan, titik tertinggi keceriaan, dan ujung rasa suka cita, namun, yang demikian itu adalah tertawa yang tidak berlebihan karena tertawa yang berlebihan menyebabkan matinya hati.

Senyuman tak akan ada harganya bila tidak terbit dari hati yang tulus. Setiap bunga tersenyum, hutan tersenyum, sungai dan laut juga tersenyum,  dan manusia sesuai watak dasarnya adalah makhluk yang suka tersenyum. Itu bila dalam dirinya tidak bercokol penyakit tamak, jahat dan egoisme yang membuat rona wajah tampak selalu kusut dan cemberut.

Tidak ada yang membuat jiwa dan wajah menjadi demikian muram selain keputusasaan, maka jika kita menginginkan senyuman, tersenyumlah terlebih dahulu dan perangilah keputusasaan. Setiap kali melihat kesulitan, jiwa seseorang yang murah senyum justru akan menikmati kesulitan ini dengan memacu diri untuk mengalahkannya. Berbeda dengan jiwa manusia yang selalu risau, setiap kali menjumpai kesulitan, ia ingin segera meninggalkannya.

Orang berkata, langit selalu berduka dan mendung
Tersenyumlah,,,! cukuplah duka cita dilangit sana
Orang berkata, masa muda telah berlalu dariku
Tersenyumlah,,,! bersedih menyesali masa muda tak kan pernah mengembalikannya
Orang berkata, langitku yang ada di dalam jiwa telah membuatku merana dan berduka, janji-janji telah menghianatiku ketika kalbu telah menguasainya, bagaimana mungkin jiwaku sanggup mengembangkan senyum manisku
Tersenyum dan berdendanglah,,,! jika kau membandingkan semua umurmu kan habis untuk merasakan sakitnya
Orang berkata, perdagangan selalu penuh intrik dan penipuan, ia laksana musafir yang akan mati karena terserang rasa haus
Tersenyumlah,,,! karena engkau akan mendapatkan penangkal dahagamu
Apa kau kira merugi karena menampakan wajah berseri,,,???
Sahabatku,,,,!!! tak membahayakan bibirmu jika engkau mengukir senyumu di sudut bibirmu
Juga tak membahayakan jiwa jika wajahmu tampak indah berseri
Tersenyumlah,,,,!!! selama antara kau dan kematian ada jarak sejengkal,,,, setelah itu engkau tidak akan pernah tersenyum,,,,!!!

Monyet,,,,

21 Feb

Maafkan saya karena saya tidak bijak mengarang, saya bukan penulis hebat, apa yang ingin saya ceritakan pun hanyalah tentang monyet, hewan yang sering jadi bahan sendaan kita, bukannya tentang uang, saham, barang perhiasan, kekasih yang tampan mau pun villa besar.

Saya teringat cerita masa lalu 17 tahun kebelakang, waktu itu saat liburan sekolah saya mengadakan kemping bersama teman-teman ke sebuah hutan, beberapa jam setelah saya berada di situ saya bejalan-jalan bersama teman saya melihat pemandangan di sekitar itu, selang dua tiga puluh langkah, kami mendengar suara riuh rendah dibalik pohon-pohon besar dihadapan kami. Saya mengamati suara itu, ternyata itu datang dari sekawanan monyet yang sedang memakan buah-buahan hutan, tak jauh dari situ terlihat pula seseorang yang sedang memperhatikan hewan itu, ternyata dia adalah seorang pemburu , kuperhatikan di sudut bibirnya ada sebaris senyuman, senyuman yang saya faham benar maksudnya.

“Adakah bapak hendak menembak monyet-monyet itu,,,,?” tanyaku, “saya akan tembak ibunya, kemudian akan saya ambil anaknya dan akan saya pelihara” begitu jawab si pemburu. Masih saya ingat juga, saya beberapa kali mendesak si pemburu tersebut supaya membatalkan hasratnya itu, tetapi gagal. Saya gagal mengendurkan niatnya.

Tidak akan saya lupa kata-kata Si pemburu itu “dari pada balik tangan kosong?” lalu dia mengacukan senapannya ke arah kawasan monyet, dan,,,,DOORRRR,,,,!!!! bunyi dentuman senapan, buyar dan kalang kabut monyet-monyet tadi menyelamatkan diri, hutan itu riuh dengan bunyi ranting patah serta jerit pekik hewan berkenaan. BUPPP,,,,!!! terdengar suara benda yang jatuh ke tanah. Saya melihat seekor ibu monyet jatuh dihadapan kami, dari perutnya bercucuran darah pekat, anaknya yang tidak mengerti apa-apa terlepas dari pelukan, tercampak tidak jauh dari ibunya sambil menjerit-jerit. Si ibu merengus-rengus memanggil anaknya dengan lemah, ia mencoba bangun dengan susah payah sambil tangannya mencapai akar-akar pohon untuk mendekati anaknya, sebelah tangan lagi mendekap perut yang masih berdarah.

Ia berusaha melangkah tapi terjatuh lagi, di coba lagi sambil berguling-guling kearah anaknya, si anak yang baru bisa berjalan jatuh bangun mendapatkan ibunya, si anak itu langsung saja memeluk ibunya yang kesakitan. Masih terbayang jelas diingatan saya bagaimana si ibu monyet tadi memegang tubuh dan menatap wajah anaknya puas-puas, kemudian diciuminya berkali-kali, setelah itu dibawa sianak ke dada lalu disuakan susunya. Kami dan si pemburu terdiam melihat si anak mengisap susu manakala ibunya mengerang-ngerang perlahan seakan memujuk menahan sakit.

Hati saya tersentuh, betapa si anak yang baru melihat dunia tidak tahu bahwa ibu tempat dia bermanja akan pergi buat selama-lamanya, saya tidak mampu menyelami fikiran ibu monyet tadi, mungkin ia ingin memeluk anaknya buat terakhir kalinya, sepuas-puasnya, karena selepas ini si ibu akan pergi tak kan kembali.

“Ibu tidak akan dapat memelukmu lagi apabila kau kedinginan, tidak bisa menyuapi mulutmu bila kau merengek kelaparan, juga melindungimu bila kau kepanasan” seperti itu mungkin yang ibu monyet katakan andaikan dia bisa bicara.

Mata si ibu monyet memandang ke arah kami, tangannya memeluk erat si anak seolah-olah enggan melepaskannya, biarlah ia mati bersama anaknya, matanya terlihat digenangi air, masih tidak lepas memandang kami dengan pandangan sayu, mungkin ingin menyatakan “betapa kejamnya manusia, dosa apakah yang aku lakukan hingga aku ditembak,,,? salahkah aku bebas kesana, berkeliaran di bumi indah ciptaan Allah ini ?”

Tubuh ibu monyet itu berlumuran darah, begitu juga dengan si anak yang masih dipelukannya, beberapa detik kemudian dengan tenaga yang masih tersisa, kami lihat si ibu mencium anaknya untuk kesekian kalinya, perlahan-lahan tubuhnya terkulai ke tanah, bisa penabur dari moncong senapan si pemburu tadi tidak dapat ditanggung lagi. Si anak menjerit-jerit memanggil ibunya supaya bangun dan melarikan diri dari situ, tapi si ibu sudah tidak bernyawa lagi. Puas menjerit, sianak tadi menyusu lagi. Disaat itu perasaan saya teramat sesak, saya perhatikan si pemburu, dia beberapa kali mengatupkan bibir coba menahan air matanya yang tumpah ke pipi. Melihat si anak monyet tadi menjerit dan menggoncang-goncangkan tubuh ibunya, akhirnya air mata kami pun tumpah, teramat sedih yang saya rasakan saat itu.

Suasana kembali sunyi, si anak monyet tadi di rangkul dan dibawa pulang oleh si pemburu biarpun ia menjerit-jerit dan enggan berpisah dengan ibunya yang telah mati. Ketika itu saya dapat merasakan betapa kejamnya manusia telah membunuh satu nyawa yang tidak berdosa, biarpun monyet itu hanya hewan, tapi mereka juga mempunyai perasaan, ada rasa kasih kepada anaknya, ada rasa sayang kepada ibunya. Tapi kita manusia,,,,???? dimana hilangnya akal waras kita,,,,?

Selang dua minggu kemudian, saya mendengar kabar dari si pemburu itu, anak monyet tadi mengikuti jejak ibunya, anak monyet itu tidak mau makan dan terus menjerit-jerit saja, mungkin ia rindukan ibunya, apabila malam keadaanya bertambah parah, dan akhirnya mati,,,,,!

Kini saya sudah berumah tangga, peristiwa itu saya ceritakan kepada anak-anak saya supaya mereka mengerti bahwa hewan juga punya perasaan, yang kejam adalah manusia, walaupun kita satu-satunya makhluk Allah yang di anugerahkan akal fikiran, tidak lupa saya memeberitahu mereka betapa agung dan sucinya kasih sayang seorang IBU.

 

Munajat,,,,,

5 Feb

Ya Allah,,,,terlalu kotor diri ini untuk menyebutMu, tapi pada siapa aku harus menghambakan jiwa ini disudut bumi yang kian memanas,,,,????

kemana lagi harus kugantungkan resah ini disisi hidup yang kian tak bermakna, aku cemburu pada mereka yang hatinya kau tetesi hidayah, aku cemburu pada mereka yang kekayaanya terlapisi berkah dan aku teramat cemburu pada mereka yang kehidupannya disinari iman,,,,

Aku ingin seperti mereka, Ya Allah,,,, Aku ingin meski terlalu kecil jiwa ini di hadapanmu, terlalu hina diri ini di kakiMu dan terlalu jauh hati ini dari tanganMu…..

Jangan jadikan aku bagian dari orang-orang yang aku ingin marah ketika mereka menjauhiMu, mengabaikan perintah-perintahMu padahal mereka berkata bahwa mereka percaya hanya Engkaulah pemilik segala yang ada dibumi dan langit ini,,,,,,

Sahabat,,,,,

5 Feb

Aku mencintai sahabat-sahabatku dengan segenap jiwa ragaku, seakan-akan aku mencintai sanak saudaraku. Sahabat yang baik adalah yang sering sejalan denganku dan yang menjaga nama baiku ketika aku hidup ataupun setelah aku mati.

Aku selalu berharap mendapatkan sahabat sejati yang tak luntur baik dalam keadaan suka ataupun duka. Jika itu aku dapatkan, aku berjanji akan selalu setia padanya. Kuulurkan tangan kepada sahabat-sahabatku untuk berkenalan, karena aku akan merasa senang, semakin banyak aku peroleh sahabat aku semakin percaya diri.

Belum pernah aku temukan didunia ini sahabat yang setia dalam duka, padahal hidupku senantiasa berputar-putar antara suka dan duka, kalau duka melanda, aku sering bertanya ,,,, siapakah yang sudi menjadi sahabatku,,,,? dikala aku senang sudah biasa banyak orang yang akan iri hati, namun bila giliran aku susah mereka pun bertepuk tangan.

Aku dapat bergaul secara bebas dengan orang lain ketika nasibku sedang baik, namun ketika musibah menimpaku, kudapatkan mereka tak ubahnya roda zaman yang tak mau bersahabat dengan  keadaan. Jika aku menjauhkan diri dari mereka, mereka mencomoohkan dan jika aku sakit, tak seorang pun yang menjenguku, jika hidupku berlumur kebahagiaan, banyak orang iri hati, jika hidupku berselimut derita mereka bersorak sorai.

Bila tak kutemukan sahabat sejati yang taqwa lebih baik aku hidup menyendiri dari pada aku harus bergaul dengan orang-orang jahat. Duduk sendirian untuk beribadah dengan tenang adalah lebih menyenangkanku daripada bersahabat dengan kawan yang mesti kuwaspadai.

Sahabat sejati adalah mereka yang sanggup berada disisi kita ketika kita memerlukan sokongan walaupun saat itu mereka sepatutnya berada ditempat lain yang lebih menyenangkan.

ku akan tersenyum menyambut sahabatku,,,,,,!!!!

Surat Cinta

13 Jan

Surat ini kutujukan untuk diriku sendiri serta sahabat-sahabat tercintaku yang Insya Allah tetap mencintai Allah dan RosulNya diatas segalanya, karena hanya cinta itu yang dapat mengalahkan segalanya, cinta hakiki yang membuat manusia melihat segalanya dari sudut pandangnya yang berbeda, lebih bermakna dan indah.

Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati sahabat-sahabat tercintaku yang kerap kali terisi oleh cinta selain dariNya, yang mudah sekali terlena oleh indahnya dunia, yang terkadang melakukan segalanya bukan karenaNya, lalu diruang hatinya yang kelam merasa senang jika dilihat dan dipuji orang, entah dimana keikhlasannya. Maka saat merasa kekecewaan dan kelelahan karena perkara yang dilakukan tidak sepenuhnya berlandaskan keikhlasan, padahal Allah tidak pernah menanyakan hasil. Dia akan melihat kesungguhan dalam berproses.

Surat ini kutujukan pula untuk jiwaku dan jiwa sahabat-sahabat tercintaku yang mulai lelah menapaki jalanNya ketika sering kali mengeluh, merasa dibebani bahkan terpaksa untuk menjalankan tugas yang sangat mulia. Padahal tiada kesakitan, kelelahan serta kepayahan yang dirasakan oleh seorang hamba melainkan Allah akan mengampuni dosa-dosanya.

Surat ini kutujukan untuk roh-ku dan roh sahabat-sahabat tercintaku yang mulai terkikis oleh dunia yang menipu, serta membiarkan fitrahnya tertutup oleh maksiat yang dinikmati, lalu dimanakah kejujuran diletakan? dan kini terabailah sudah nurani yang bersih, saat ibadah hanyalah sebagai rutinitas belaka, saat jasmani dan fikiran disibukan oleh dunia, saat wajah menampakan kebahagiaan yang penuh kepalsuan. Coba lihat disana,,,,!! Hatimu menangis dan meranakah,,,???

Surat ini kutujukan untuk diriku dan diri sahabat-sahabat tercintaku yang sombong, yang terkadang bangga pada dirinya sendiri. Sungguh tiada satu pun yang membuat kita lebih di hadapanNya selain ketakwaan.

Padahal kita menyadari bahwa tiap-tiap jiwa akan merasakan mati, namun kita masih bergelut terus dengan kefanaan. Surat ini kutujukan untuk hatiku dan hati sahabat-sahabat tercintaku yang mulai mati, saat tiada getar ketika asma Allah disebut, saat tiada sesal ketika kebaikan berlalu begitu saja, saat tiada rasa takut padaNya ketika maksiat dilakukan, dan tiada merasa berdosa ketika menzhalimi diri sendiri dan orang lain.

Akhirnya surat ini kutujukan untuk jiwa yang masih memiliki cahaya meskipun sedikit, jangan biarkan cahaya itu padam. Maka terus kumpulkan cahaya itu  hingga ia dapat menerangi wajah-wajah di sekeliling, memberikan keindahan Islam yang sesungguhnya hanya dengan kekuatan dariNya.

 

Kita Layak Jadi Orang Miskin

13 Jan

Kemiskinan merupakan keadaan yang tidak disukai oleh semua orang, kemiskinan mewabah dan menggurita di negeri ini. Kemiskinan layaknya jaringan rantai berputar tak berujung, di antara kita berteriak dan berseloroh bahwa kita harus memberantas kemiskinan, kenyataannya, kita menyukai kemiskinan itu sendiri, kita bercumbu dan bermesraan dengan kemiskinan dalam keseharian. Dimungkiri??? tidak. Ini kenyataan. Kita layak jadi orang miskin, kita malas, kita peminta-minta, kita konsumtif dan kita bodoh.

Malas sebenarnya bukanlah penyakit baru pada abad milenia ini, malas merupakan penyakit yang sudah berusia ribuan tahun, malas tidak ada obatnya, hanya diri sendiri yang mampu melawannya, malas terlahir oleh banyak faktor diantaranya mentalitas, kemalasan terlahir dari diri yang biasa dimanjakan, enggan melakukan sesuatu yang susah memilih sesuatu yang mudah, enggan bekerja sebab bekerja berarti berkeringat, berkeringat berarti capek, diantara kita lebih berpangku tangan dan memilih bersantai ria. Apa kita tidak layak  jadi orang miskin?

Peminta-minta, diantara kita lebih senang meminta dari pada memberi, sifat ini pun terlahir dari banyak faktor diantaranya sekali lagi mentalitas. Ironisnya, pada era sekarang ini meminta merupakan pekerjaan biasa dan bukan sesuatu yang memalukan, malah ia mewabah dan menjadi profesi. Si miskin lebih suka meminta dijalan-jalan atau dari rumah kerumah dan menolak untuk bekerja, alasannya lapangan pekerjaan susah. Banyak PR besar untuk negeri ini, pejabat lebih suka meminta segala kebutuhan tektek bengeknya dari anggaran negara atau daerah dengan menghabiskan anggaran orang miskin. Seribu satu alasan legitimasi terciptakan untuk memuluskan mentalitas meminta-minta. Apa kita tidak layak jadi orang miskin?

Konsumtif, coba perhatikan disekitar kehidupan kita dan keseharian kita, makanan, pakaian, barang-barang dirumah dan lain-lain, berapa persen yang kita konsumsi sesuai dengan kebutuhan kita? atau lebih banyak kita konsumsi karena keinginan kita? makanan tidak perlu mewah tapi cukup memenuhi gizi, pakaian tidak berlebihan tapi sopan. Konsumsi kita terhadap produk-produk lebih didominasi rasa prestisius dan gengsi tidak mempertimbangkan banyak faktor. Apa kita tidak layak jadi orang miskin?

Bodoh, barang siapa menghendaki kehidupan dunia hendaklah dengan ilmu, barang siapa menghendaki kehidupan akhirat hendaklah dengan ilmu, barangsiapa menghendaki keduanya hendaklah dengan ilmu, tidak peduli sekaya apapun negeri ini, tidak peduli sebanyak apa warisan dari orang tua kita, kalau kita bodoh pasti semua akan habis atau diakalin orang. Harga suatu kebodohan adalah membuat kita miskin. Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat. From the beginning of the life until the end of life. Thalabul ‘ilmi madal hayah. kalau kita bodoh, apa kita tidak layak jadi orang miskin?

Setiap orang ingin mengubah keadaan ini tapi hanya sebatas keinginan saja tidak diikuti pergerakan, sementara perubahan akan hanya terjadi jika diikuti pergerakan, dengan kata lain sebuah pepatah mengatakan, kita lebih senang membicarakan khasiat jamu tapi tidak mau meminumnya.